PELATIHAN
LITERASI BAGI MAHASISWA PGSD/PGMI DI TANAH PAPUA
INVESTASI
STRATEGIS UNTUK PENDIDIKAN MASA DEPAN
Oleh:
Martinus Tekege
(Dekan FKIP
USWIM Nabire)
Dalam berbagai
laporan nasional dan internasional, masalah literasi dasar—baik literasi baca tulis
maupun literasi numerasi—masih menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan
Indonesia. Data dari Asesmen Nasional menunjukkan bahwa kemampuan literasi
siswa di berbagai daerah tertinggal, termasuk Tanah Papua, berada di bawah
rata-rata nasional. Kondisi ini menuntut adanya intervensi konkret, terencana,
dan berkelanjutan. Salah satu langkah strategis yang patut diapresiasi adalah
pelatihan penggunaan modul literasi baca tulis dan numerasi bagi mahasiswa
PGSD/PGMI yang diselenggarakan melalui kemitraan antara UNIMUDA Sorong, IAIN
Sorong, UNICEF Australia, dan USWIM Nabire.
Pelatihan ini
bukan hanya program teknis atau kegiatan seremonial belaka. Lebih dari itu, ia
merupakan investasi jangka panjang dalam membentuk kualitas guru masa
depan—terutama mereka yang akan mengabdi di daerah 3T (terdepan, terluar, dan
tertinggal) seperti Tanah Papua. Mahasiswa program studi Pendidikan Guru
Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) adalah
calon pendidik yang akan langsung berinteraksi dengan anak-anak di usia emas.
Maka membekali mereka dengan pemahaman, pendekatan, dan keterampilan literasi
yang kontekstual adalah hal yang mutlak.
Salah satu
nilai lebih dari pelatihan ini adalah keberpihakan pada konteks lokal. Modul
yang digunakan telah disesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, dan bahasa
masyarakat Papua, yang selama ini kerap terabaikan dalam desain kurikulum
nasional. Pendekatan seperti ini memungkinkan mahasiswa memahami bahwa literasi
bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami makna
dalam konteks kehidupan sehari-hari masyarakat. Literasi numerasi pun tidak
berhenti pada hitung-hitungan angka, tetapi mencakup kemampuan berpikir logis
dan mengambil keputusan berbasis data dalam kehidupan nyata.
Kehadiran UNICEF
Australia dalam kemitraan ini menjadi penanda penting bahwa pembangunan
pendidikan di Papua adalah isu yang mendapat perhatian global. Kolaborasi
antara lembaga internasional, perguruan tinggi lokal, dan komunitas pendidikan
adalah model kerja sama yang dapat direplikasi di wilayah lain dengan tantangan
serupa. Pendekatan yang tidak bersifat top-down, tetapi kolaboratif dan
partisipatif, akan mendorong munculnya solusi yang relevan dan berkelanjutan.
Namun demikian, pelatihan ini tidak boleh berhenti sebagai kegiatan satu kali. Untuk menjamin keberhasilannya, perlu ada mekanisme pendampingan berkelanjutan, penguatan kapasitas dosen sebagai fasilitator literasi, serta integrasi modul ke dalam kurikulum pembelajaran kampus. Selain itu, evaluasi dampak terhadap praktik mengajar mahasiswa di lapangan perlu dilakukan untuk memastikan bahwa pelatihan ini benar-benar membawa perubahan dalam cara mengajar, bukan sekadar menambah beban administratif.
Lebih luas
lagi, pelatihan ini mengingatkan kita bahwa peningkatan kualitas pendidikan di
Papua tidak bisa dilepaskan dari kualitas guru. Guru yang memahami konteks
lokal, memiliki empati sosial, serta terampil dalam metode mengajar yang
partisipatif akan menjadi agen transformasi sejati di tengah keterbatasan. Maka,
investasi pada mahasiswa calon guru, seperti yang dilakukan dalam pelatihan
ini, adalah strategi paling masuk akal dan berdampak jangka panjang.
Akhir kata,
inisiatif pelatihan literasi ini layak dijadikan model dalam kebijakan
pendidikan nasional, khususnya dalam konteks penguatan pendidikan dasar di
wilayah tertinggal. Ketika kampus tidak hanya menjadi menara gading, tetapi
juga pusat pemberdayaan calon guru, maka masa depan pendidikan Indonesia akan
memiliki fondasi yang lebih kuat dan adil, termasuk bagi anak-anak Papua.
.png)
