Rabu, 04 Juni 2025

PELATIHAN LITERASI BAGI MAHASISWA CALON GURU

PELATIHAN LITERASI BAGI MAHASISWA PGSD/PGMI DI TANAH PAPUA

INVESTASI STRATEGIS UNTUK PENDIDIKAN MASA DEPAN

Oleh:

Martinus Tekege

(Dekan FKIP USWIM Nabire)


Dalam berbagai laporan nasional dan internasional, masalah literasi dasar—baik literasi baca tulis maupun literasi numerasi—masih menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan Indonesia. Data dari Asesmen Nasional menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa di berbagai daerah tertinggal, termasuk Tanah Papua, berada di bawah rata-rata nasional. Kondisi ini menuntut adanya intervensi konkret, terencana, dan berkelanjutan. Salah satu langkah strategis yang patut diapresiasi adalah pelatihan penggunaan modul literasi baca tulis dan numerasi bagi mahasiswa PGSD/PGMI yang diselenggarakan melalui kemitraan antara UNIMUDA Sorong, IAIN Sorong, UNICEF Australia, dan USWIM Nabire.

Pelatihan ini bukan hanya program teknis atau kegiatan seremonial belaka. Lebih dari itu, ia merupakan investasi jangka panjang dalam membentuk kualitas guru masa depan—terutama mereka yang akan mengabdi di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) seperti Tanah Papua. Mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) adalah calon pendidik yang akan langsung berinteraksi dengan anak-anak di usia emas. Maka membekali mereka dengan pemahaman, pendekatan, dan keterampilan literasi yang kontekstual adalah hal yang mutlak.

Salah satu nilai lebih dari pelatihan ini adalah keberpihakan pada konteks lokal. Modul yang digunakan telah disesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, dan bahasa masyarakat Papua, yang selama ini kerap terabaikan dalam desain kurikulum nasional. Pendekatan seperti ini memungkinkan mahasiswa memahami bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami makna dalam konteks kehidupan sehari-hari masyarakat. Literasi numerasi pun tidak berhenti pada hitung-hitungan angka, tetapi mencakup kemampuan berpikir logis dan mengambil keputusan berbasis data dalam kehidupan nyata.

Kehadiran UNICEF Australia dalam kemitraan ini menjadi penanda penting bahwa pembangunan pendidikan di Papua adalah isu yang mendapat perhatian global. Kolaborasi antara lembaga internasional, perguruan tinggi lokal, dan komunitas pendidikan adalah model kerja sama yang dapat direplikasi di wilayah lain dengan tantangan serupa. Pendekatan yang tidak bersifat top-down, tetapi kolaboratif dan partisipatif, akan mendorong munculnya solusi yang relevan dan berkelanjutan.


Namun demikian, pelatihan ini tidak boleh berhenti sebagai kegiatan satu kali. Untuk menjamin keberhasilannya, perlu ada mekanisme pendampingan berkelanjutan, penguatan kapasitas dosen sebagai fasilitator literasi, serta integrasi modul ke dalam kurikulum pembelajaran kampus. Selain itu, evaluasi dampak terhadap praktik mengajar mahasiswa di lapangan perlu dilakukan untuk memastikan bahwa pelatihan ini benar-benar membawa perubahan dalam cara mengajar, bukan sekadar menambah beban administratif.

Lebih luas lagi, pelatihan ini mengingatkan kita bahwa peningkatan kualitas pendidikan di Papua tidak bisa dilepaskan dari kualitas guru. Guru yang memahami konteks lokal, memiliki empati sosial, serta terampil dalam metode mengajar yang partisipatif akan menjadi agen transformasi sejati di tengah keterbatasan. Maka, investasi pada mahasiswa calon guru, seperti yang dilakukan dalam pelatihan ini, adalah strategi paling masuk akal dan berdampak jangka panjang.

Akhir kata, inisiatif pelatihan literasi ini layak dijadikan model dalam kebijakan pendidikan nasional, khususnya dalam konteks penguatan pendidikan dasar di wilayah tertinggal. Ketika kampus tidak hanya menjadi menara gading, tetapi juga pusat pemberdayaan calon guru, maka masa depan pendidikan Indonesia akan memiliki fondasi yang lebih kuat dan adil, termasuk bagi anak-anak Papua.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Berikan Tanggapan