URGENSI ELABORASI INKLUSI DI ERA GLOBAL
Era global ditandai oleh percepatan arus informasi, mobilitas
manusia, perkembangan teknologi digital, serta interaksi lintas budaya yang
semakin intensif. Globalisasi membawa peluang besar bagi kemajuan pendidikan,
namun juga berpotensi memperlebar kesenjangan sosial apabila tidak dikelola
secara adil. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji urgensi elaborasi inklusi
dalam pendidikan di era global, khususnya dalam konteks Indonesia dengan
perhatian pada Papua dan Indonesia Timur. Melalui pendekatan kajian konseptual
dan analisis kebijakan, makalah ini menunjukkan bahwa pendidikan inklusif
merupakan strategi fundamental untuk menjamin kesetaraan akses, merespons
keberagaman, mengatasi kesenjangan digital, serta menyiapkan sumber daya
manusia yang berdaya saing global tanpa mengabaikan identitas lokal. Elaborasi
inklusi tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga strategis dalam mendukung
pembangunan berkelanjutan.
Kata kunci: pendidikan inklusif, globalisasi, kesetaraan akses,
keberagaman, SDGs.
Pendahuluan
Era global ditandai oleh percepatan arus informasi, mobilitas
manusia, perkembangan teknologi digital, serta interaksi lintas budaya yang
semakin intensif. Globalisasi telah membuka peluang besar bagi kemajuan
pendidikan melalui pertukaran pengetahuan, inovasi teknologi, dan jejaring
internasional. Namun, pada saat yang sama, globalisasi juga memunculkan
tantangan serius berupa kesenjangan akses, eksklusi sosial, dan ketimpangan
kualitas pendidikan, terutama bagi kelompok rentan.
Dalam konteks ini, pendidikan tidak lagi dapat dipahami
semata-mata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagai instrumen
strategis untuk membangun keadilan sosial dan keberlanjutan pembangunan.
Elaborasi inklusi dalam pendidikan menjadi kebutuhan mendesak agar sistem
pendidikan mampu merespons kompleksitas global secara adil, adaptif, dan
berkelanjutan. Makalah ini membahas urgensi elaborasi inklusi di era global
dengan menyoroti dimensi kesetaraan akses, teknologi digital, keberagaman
budaya, agenda pembangunan global, serta perubahan dunia kerja.
Pembahasan
1. Inklusi Pendidikan dan Kesetaraan Akses di Era Global
Globalisasi menuntut pendidikan yang menjamin kesetaraan
akses dan partisipasi bagi seluruh peserta didik. Kompetisi global dalam bidang
ekonomi dan sumber daya manusia menempatkan pendidikan sebagai kunci utama
peningkatan daya saing bangsa. Namun, tanpa pendekatan inklusif, pendidikan
berisiko hanya menguntungkan kelompok tertentu yang memiliki modal ekonomi,
sosial, dan budaya yang lebih kuat.
Kelompok rentan seperti peserta didik berkebutuhan khusus,
masyarakat adat, kelompok miskin, serta mereka yang tinggal di wilayah
terpencil sering kali menghadapi hambatan struktural dalam mengakses pendidikan
bermutu. Elaborasi inklusi diperlukan agar pendidikan benar-benar menjadi
sarana mobilitas sosial yang berkeadilan, bukan mekanisme reproduksi
ketimpangan.
2. Teknologi Digital dan Paradoks Inklusi
Perkembangan teknologi digital menghadirkan paradoks dalam
pendidikan. Di satu sisi, teknologi membuka peluang pembelajaran yang luas
melalui platform daring, sumber belajar terbuka, dan inovasi pedagogis. Di sisi
lain, kesenjangan digital (digital divide) masih menjadi persoalan serius,
khususnya di wilayah Papua dan Indonesia Timur yang menghadapi keterbatasan
infrastruktur, akses internet, dan literasi digital.
Elaborasi inklusi dalam konteks transformasi digital menuntut
kebijakan pendidikan yang sensitif terhadap aksesibilitas dan keberagaman
kebutuhan peserta didik. Integrasi teknologi bantu, penguatan literasi digital,
serta pemerataan infrastruktur menjadi prasyarat agar digitalisasi pendidikan
tidak menciptakan bentuk eksklusi baru.
3. Keberagaman Budaya dan Multikulturalisme
Era global ditandai oleh meningkatnya keberagaman budaya,
bahasa, dan identitas dalam ruang pendidikan. Mobilitas penduduk dan interaksi
lintas budaya menuntut sistem pendidikan yang mampu mengelola perbedaan secara
konstruktif. Pendidikan inklusif harus mampu mengembangkan kurikulum dan
praktik pembelajaran yang menghargai multikulturalisme, kearifan lokal, dan
identitas peserta didik.
Dalam konteks Papua dan Indonesia Timur, inklusi berarti
pengakuan terhadap bahasa ibu, pengetahuan lokal, serta relasi harmonis antara
manusia dan alam. Elaborasi inklusi menjadi landasan untuk memastikan bahwa
pendidikan tidak menghapus identitas lokal atas nama globalisasi, melainkan
memperkuatnya sebagai bagian dari kekayaan bangsa.
4. Pendidikan Inklusif dan Agenda Pembangunan Global
Agenda pembangunan global, khususnya Sustainable Development
Goals (SDGs), menempatkan pendidikan inklusif dan bermutu sebagai salah satu
target utama. Tujuan ini menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak dapat
diukur hanya dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana pendidikan
menjangkau dan memberdayakan seluruh lapisan masyarakat.
Elaborasi inklusi dalam pendidikan merupakan strategi untuk
menyelaraskan kebijakan pendidikan nasional dan lokal dengan komitmen global
terhadap pembangunan manusia yang berkelanjutan. Pendidikan inklusif
berkontribusi pada pengurangan kemiskinan, peningkatan kesehatan, dan penguatan
kohesi sosial.
5. Perubahan Dunia Kerja dan Kompetensi Abad ke-21
Perubahan dunia kerja akibat otomatisasi dan kecerdasan
buatan menuntut penguasaan kompetensi abad ke-21, seperti berpikir kritis,
kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital. Tanpa pendidikan yang inklusif,
hanya sebagian kecil peserta didik yang mampu mengembangkan kompetensi
tersebut.
Elaborasi inklusi memastikan bahwa setiap peserta didik,
dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam, memperoleh kesempatan untuk
mengembangkan potensi diri secara optimal dan relevan dengan tuntutan global.
Dengan demikian, pendidikan inklusif berperan penting dalam menyiapkan sumber
daya manusia yang adaptif dan berdaya saing.
Urgensi elaborasi inklusi di era global tidak hanya bersifat
normatif, tetapi juga strategis. Pendidikan inklusif merupakan fondasi untuk
membangun masyarakat yang adil, adaptif, dan berdaya saing global tanpa
kehilangan identitas lokal. Bagi Papua dan Indonesia Timur, elaborasi inklusi
menjadi jalan untuk menjembatani kesenjangan, memperkuat pemberdayaan
masyarakat lokal, serta memastikan bahwa globalisasi menjadi peluang, bukan
ancaman, bagi pembangunan pendidikan yang berkelanjutan.
DAFTAR
PUSTAKA
Ainscow, M.
(2020). Promoting inclusion and equity in education: Lessons from
international experiences. Nordic Journal of Studies in Educational Policy,
6(1), 7–16.
Banks, J. A.
(2015). Cultural diversity and education: Foundations, curriculum, and
teaching. New York: Routledge.
BPS. (2023).
Statistik pendidikan Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
OECD.
(2018). The future of education and skills: Education 2030. Paris: OECD
Publishing.
UNESCO.
(2017). A guide for ensuring inclusion and equity in education. Paris:
UNESCO.
United
Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 agenda for sustainable
development. New York: United Nations.
