Angka kelahiran di Papua, menunjukkan
tren penurunan dalam satu dekade terakhir. Data dari Badan Pusat Statistik
(BPS) menunjukkan penurunan Tingkat Fertilitas Total (TFR) dari 3.18 pada
tahun 2010 menjadi 2.66 pada tahun 2020 DATA DI Papua Barat. Secara keseluruhan,
angka kelahiran di Papua masih tergolong rendah dibandingkan dengan daerah lain
di Indonesia.
Beberapa faktor yang mempengaruhi
penurunan angka kelahiran di Papua, antara lain:
- Perubahan sosial budaya:
Peningkatan kesadaran akan
pentingnya pendidikan dan kesehatan, serta perubahan gaya hidup, mempengaruhi
keputusan pasangan untuk memiliki lebih sedikit anak.
- Akses terhadap informasi dan layanan KB:
Meskipun ada upaya peningkatan,
akses terhadap informasi dan layanan keluarga berencana (KB) masih menjadi
tantangan di beberapa daerah, terutama di wilayah terpencil.
- Faktor ekonomi:
Biaya hidup yang semakin tinggi
dan kebutuhan untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak juga
menjadi pertimbangan dalam memutuskan jumlah anak.
- Data kependudukan yang belum akurat:
Keterbatasan data kependudukan,
terutama di daerah terpencil, menyulitkan pemerintah dalam melakukan
perencanaan dan pelaksanaan program kependudukan yang tepat sasaran.
Meskipun terjadi penurunan, angka
kelahiran di Papua masih menjadi perhatian, terutama dalam konteks peningkatan
kualitas penduduk. Kepala BKKBN menekankan pentingnya meningkatkan
kualitas penduduk, termasuk mengatasi masalah stunting, dan memberikan
pendidikan yang layak bagi anak-anak. Selain itu, perlu adanya upaya untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya data kependudukan dan
akses terhadap layanan KB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Berikan Tanggapan