Senin, 05 Januari 2026

Urgensi Elaborasi Inklusi di Era Global

Era global ditandai oleh percepatan arus informasi, mobilitas manusia, perkembangan teknologi digital, serta interaksi lintas budaya yang semakin intensif. Globalisasi telah membuka peluang besar bagi kemajuan pendidikan, namun sekaligus memperlebar kesenjangan bagi kelompok yang tidak memiliki akses, kapasitas, dan dukungan yang memadai. Dalam konteks ini, elaborasi inklusi dalam pendidikan menjadi kebutuhan mendesak agar sistem pendidikan mampu merespons kompleksitas global secara adil, adaptif, dan berkelanjutan.

Pertama, globalisasi menuntut pendidikan yang menjamin kesetaraan akses dan partisipasi bagi seluruh peserta didik. Kompetisi global dalam bidang ekonomi dan sumber daya manusia menempatkan pendidikan sebagai kunci utama peningkatan daya saing bangsa. Namun, tanpa pendekatan inklusif, globalisasi justru berpotensi memperkuat eksklusi bagi kelompok rentan, seperti masyarakat adat, peserta didik berkebutuhan khusus, kelompok miskin, dan mereka yang tinggal di wilayah terpencil. Elaborasi inklusi diperlukan agar pendidikan tidak hanya melayani kelompok tertentu, tetapi benar-benar menjadi sarana mobilitas sosial yang berkeadilan.

Kedua, perkembangan teknologi digital menghadirkan paradoks inklusi. Di satu sisi, teknologi membuka akses pembelajaran yang luas melalui platform daring dan sumber belajar terbuka. Di sisi lain, kesenjangan digital (digital divide) masih menjadi persoalan serius, khususnya di wilayah Papua dan Indonesia Timur. Elaborasi inklusi dalam pendidikan menuntut integrasi kebijakan teknologi yang mempertimbangkan aksesibilitas, literasi digital, dan pemanfaatan teknologi bantu, sehingga transformasi digital pendidikan tidak menciptakan bentuk eksklusi baru.

Ketiga, era global ditandai oleh meningkatnya keberagaman budaya, bahasa, dan identitas dalam ruang pendidikan. Mobilitas penduduk, interaksi lintas budaya, serta arus nilai global menuntut pendidikan yang mampu mengelola perbedaan secara konstruktif. Elaborasi inklusi diperlukan untuk mengembangkan kurikulum dan praktik pembelajaran yang menghargai multikulturalisme, kearifan lokal, dan identitas peserta didik. Dalam konteks Papua dan Indonesia Timur, inklusi juga berarti pengakuan terhadap bahasa ibu, pengetahuan lokal, serta relasi harmonis manusia dengan alam.

Keempat, agenda pembangunan global seperti Sustainable Development Goals (SDGs) menempatkan pendidikan inklusif dan bermutu sebagai salah satu target utama. Tujuan ini menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak dapat diukur hanya dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana pendidikan menjangkau dan memberdayakan seluruh lapisan masyarakat. Elaborasi inklusi menjadi strategi untuk menyelaraskan kebijakan pendidikan nasional dan lokal dengan komitmen global terhadap pembangunan manusia yang berkelanjutan.

Kelima, perubahan dunia kerja akibat otomatisasi dan kecerdasan buatan menuntut kompetensi abad ke-21, seperti berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, dan literasi digital. Tanpa pendidikan yang inklusif, hanya sebagian kecil peserta didik yang mampu mengembangkan kompetensi tersebut. Elaborasi inklusi memastikan bahwa setiap peserta didik, dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam, memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi diri secara optimal dan relevan dengan tuntutan global.

Dengan demikian, urgensi elaborasi inklusi di era global tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga strategis. Pendidikan inklusif menjadi fondasi untuk membangun masyarakat yang adil, adaptif, dan berdaya saing global tanpa kehilangan identitas lokal. Bagi Papua dan Indonesia Timur, elaborasi inklusi merupakan jalan untuk menjembatani kesenjangan, memperkuat pemberdayaan masyarakat lokal, serta memastikan bahwa globalisasi menjadi peluang, bukan ancaman, bagi pembangunan pendidikan yang berkelanjutan.